Nama
: Ana Niastutri
Nim
136795
Teks, Kotek dan Konteks,
A.
Teks,,koteks
dan konteks
Banyak orang mempertukarkan istilah teks lebih dekat pemaknaannya dengan bahasa tulis,
dan wacana pada bahasa lisan (DedeOetomo, 1993:4 ) . Dalam konteks ini, teks
dapat disamakan dengan naskah, yaitu semacam bahan tulisan yang berisi materi
tertentu, seperti naskah materi kuliah, pidato, atau lainnya. Teks adalah
esensi wujud bahasa. Dengan kata lain, teks direalisasi (diucapkan) dalam
bentuk wacana. Teks merupakan produk, dalam arti bahwa teks itu
merupakan keluaran (output) ; sesuatu yang dapat direkam atau dipelajari
(berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan proses pemilihan
makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau memberi informasi
dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam otak kita terjadi
proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi tersebut, jangan sampai
terjadi kesalahpahaman. Jika sudah bagaimana pemahaman tentang teks selanjutnya
ko-teks Adalah teks
yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya,
teks satu memiliki hubungan dengan teks lainnya. Teks lain tersebut bisa berada di depan (mendahului)
atau di belakang (mengiringi).Keberadaan koteks dalam suatu struktur wacana
menunjukkan bahwa teks tersebut memiliki struktur yang saling berkaitan satu
dengan yang lain. Gejala inilah yang menyebabkan suatu wacana menjadi utuh dan
lengkap. Dengan demikian, koteks berfungsi sebagai alat bantu memahami dan
menganalisis wacana. Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks
yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Wujud koteks
bermacam-macam, dapat berupa kalimat, atau paragraf. Koteks disebut juga
sebagai konteks lingusitik.
Konteks
adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. mengemukakan secara garis besar, konteks wacana dibedakan
atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik.
Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik
itu mencakup penyebutan kata depan, kata sifat, kata kerja, kata kerja bantu,
dan proposisi positif. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan
berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan,
partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode. Partisipan
adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi
berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan pendengar. Latar
adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. Saluran adalah
ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. Kode adalah
bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana.
Macam-Macam Konteks
Secara garis
besar konteks dapat dipilih menjadi dua kategori , yakni konteks linguistik dan
konteks ekstralinguistik.
1.Konteks
linguistik
Konteks
linguistik merupakan konteks wacana atau lingkungan wacana yang berupa unsur
bahasa yang mencakup:
a.
Penyebutan kata depan.
Penyebutan
depan adalah lingkungan linguistik yang berupa bagian wacana yang disebut
terdahulu <perior-mention> sebelum bagian teks yang lain. Dari penyebutan
itulah status sebuah acuan <suatu yang dimaksudkan> dapat terwujud dan
dapat dikenali.
b.
Kata sifat.
Kata kerja
digolongkan menjadi dua macam yaitu generik dan tak generik. Kata kerja generik
adalah kata kerja yang penggeraknya tidak dapat menjadi informasi lama , yakni
informasi yang tidak dapat disebut kembali dengan pemerkah definisi ini dan
itu. Sedangkan kata kerja tak generik yakni benda yang mengikutinya dapat
diikuti objek dan objeknya dapat disebut kembali dengan pemerkah definisi ini
dan itu.
c.
Kata kerja konteks.
Kata kerja
konteks adalah kata kerja yang ditambahkan pada kata kerja utama. Ada kata
bantu ...... <yang menunjukan sikap batin : harus,pasti,mungkin,ingin,suka,mau
dan sebagainya> sedangkan kata kerja bantu aspek <yang menunjukan
keberlangsungan kerja,sudah,akan,belum,baru dan sebagainya>.
d.
Proposisi
positif.
Secara
sederhana proposisi dapat diartikan sebagai pertanyaan secara teknis dapat diartikan
sebagai konfigurasi makna yang terjadi dari hubungan antara unsur sabjek dan
predikat serta unsur-unsur yang lain dalam klausa atau kalimat atau apa yang
dikemukakan oleh penutur/penulis, atau tentang apa yang terungkap dalam sebuah
teks wacana.
2. Konteks
ekstra linguistik
Macam-macam konteks ekstra linguistik
a.
Peranggapan
Peranggapan
adalah ungkapan yang sudah ada yang menjadi syarat bagi benar salah satunya
suatu kalimat . peranggapan itu merupakan (pengetahuan) landasan bersama
(camman ground) bagi pengguna bahasa. Stalnaker (Brown dan yule 1983) dalam menyatakan
bahwa peranggapan adalah apa yang dimiliki untuk dijadikan landasan bersama
partisipasi dalam komunikasi verbal.
b.
Partisipasi
Partisipasi
adalah orang yang berpartisipasi dalam peristiwa itu. Semua pelaku yang
partisipasi pada peristiwa itu disebut partisipan.
c.
Topik dan
kerangka topik
Topik adalah
pokok isi sebuah wacana. Topik dalam sebuah wacana dapat dikenali dengan
pertanyaan, tentang apa yang di kemukakan oleh penutur/penulis, atau tentang
apa yang terungkap dalam sebuah teks wacana. Topik merupakan pengikat
satuan-satuan teks pembentuk wacana. Kalimat dalam teks juga harus berisi
informasi yang relevan dengan topik.
Dengan
menggunakan topik tertentu suatu interaksi dapat berjalan dengan lancar. Namun
dalam kehidupan sehari-hari apa yang disebut dengan topik sangat kompleks
sehingga para ahli wacana menamakannya dengan kerangka topik.
Kerangka
topik adalah topik besar atau topik atasan yang meliputi sejumlah topik
bawahan. Jadi, istilah topik dan kerangka topik diberlakukan manakala dalam
teks terdapat topik atasan dan topik bawahan.
d.
Latar
Latar
(seting) adalah konteks kewacanaan yang berupa tempat, waktu dan peristiwa.
Konteks tersebut sangat berpengaruh dalam penggunaan satuan unsur wacana.
Sebuah peristiwa berpengaruh dalam penggunaan tuturan dalam wacana. Dalam
peristiwa kecelakaan biasanya akan muncul kalimat-kalimat :
Apkah ada
yang meninggal?
Siapa yang
bersalah?
Bagian yang
ditanyakan juga bermacam-macam, bergantung pada perhatian penutur.
e.
Saluran
komunikasi
Lisan dan
tulis itu merupakan saluran bahasa. Disamping itu bahasa juga digunakan secara
langsung (tanpa sarana/alat) atau juga secara tidak langsung(dengan
sarana/alat) dalam bahasa tulis, unsur isi diuyngkapkan lebih lengkap daripada
bahasa lisan.
f.
Kode
Istilah kode
digunakan dalam model ini dengan pengertian bahasa atau dialek beserta
ragam-ragamnya : ragam baku, ragam resmi, ragam akrab, ragam intim.
Anda tentu
bersikap dengan kesungguhan ketika anda mengikuti acara doa dituturkan dengan
ragam resmi, bahkan ada yang menggunakan ragam baku bahkan ragam yang tidak
dapat diubah. Anda sebagai peserta doa, lebih sering diharapkan pada satu
pilihan sahutan saja, yaitu “aamiin”, dan tidak boleh dengan kata lain
yang bersinonim setuju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar