DEFINISI KAJIAN WACANA
Istilah wacana berasal dari bahasa sansakerta wac/wak/vak,
artinya berkata berucap (Douglas, 1976:262). Menurut Webster wacana diartikan
sebagai ucapan lisan dan dapat juga berupa tulisan, tetapi persyaratannya harus
dalam satu rangkaian (connected) dan dibentuk oleh lebih dari sebuah kalimat.
Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5), wacana adalah satuan bahasa
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal
dan akhir yang nyata. Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
wacana merupakan satuan bahasa yang lengkap dan disusun secara teratur dan
membentuk suatu makna.
Kajian
merupakan suatu kajian disiplin ilmu yang mengkaji wacana Dalam kajian wacana
terdapat beberapa macam seperti: tindak tutur, Sosiolinguistik interaksional, Kontribusi
Antopologi: Gumperz, Kontruksi Sosiolog: Goffman, Sosiolinguistik Interaksional
ke dalam Konteks dan Wacana, dan Pragmatik.
MACAM-MACAM KAJIAN
WACANA
A. Tindak Tutur
Konsep
mengenai tindak ujaran (Speech Acts) dikemukakan pertama oleh John L.
Austin dengan bukunya How to Do Things with Words (1962).Austin adalah
orang pertama yang mengungkapkan gagasan bahwa bahasa dapat digunakan untuk
melakukan tindakan melalui pembedaan antara ujaran konstatif dan ujaran
performatif.Ujaran konstantif mendeskripsikan atau melaporkan peristiwa atau
keadaan dunia.Dengan demikian, ujaran konstantif dapat dikatakan benar atau
salah.Sedangkan ujaran performatif, tidak mendeskripsikan benar salah dan
pengujaran kalimat merupakan bagian dari tindakan.(Austin, 1962: 5).
Austin
membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran, yaitu:
a.
Lokusi, yaitu semata-mata tindak bicara, tindakan mengucapkan kalimat
sesuai dengan makna kata atau makna kalimat. Dalam hal ini kita tidak
mempermasalahkan maksud atau tujuan dari ujaran tersebut.Misal ada orang
berkata “saya haus” artinya orang tersebut mengatakan dia haus.
b.
Ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara mengenai
maksud, fungsi dan daya ujaran yang dimaksud. Jadi ketika ada kalimat ”saya
haus” dapat memiliki makna dia haus dan minta minum.
c.
Perlokusi, adalah efek yang dihasilkan ketika penutur mengucapkan
sesuatu. Misalnya ada kalimat ”saya haus” maka tindakan yang muncul
adalah mitra tutur bangkit dan mengambilkan minum.
J.R.
Searle kemudian menerbitkan buku Speech Acts yangmengembangkan hipotesa bahwa setiap tuturan mengandung arti
tindakan.Tindakan ilokusioner merupakan bagian sentral dalam kajian tindak
tutur. Ada lima jenis ujaran seperti yang diungkapkan oleh Searle (1969) antara
lain:
a.
representatif (asertif), yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya
kebenaran atas apa yang dikatakan (misal: menyatakan, melaporkan, mengabarkan,
menunjukan, menyebutkan).
b.
direktif, tindak ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar
mitra tutur melakukan apa yang ada dalam ujaran tersebut (misalnya: menyuruh,
memohon, meminta, menuntut, memohon).
c.
ekspresif, tindak ujaran yang dilakukanss dengan maksud ujarannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan pada ujaran tersebut
(misalnya: memuji, mengkritik, berterima kasih).
d.
komisif, tindak ujaran yang mengikat penutur untuk melakukan seperyi apa
yang diujarkan (misalnya bersumpah, mengancam, berjanji).
e.
deklarasi, tindak ujaran yang dilakukan penutur dengan maksud untuk
menciptakan hal yang baru (misalnya memutuskan, melarang, membatalkan).
Ada
kalanya tempat tertentu, waktu tertentu, suasana tertentu, peristiwa tertentu,
dan keberadaan orang tertentu dimanfaatkan oleh seseorang untuk mendukung dan
menunjang keberhasilan tuturan yang dilakukannya kepada mitra tuturnya.
Pemanfaatan konteks untuk mendukung keberhasilan tujuan tuturan inilah yang
dimaksudkan dengan pendayagunaan konteks
1. Konteks Tempat
Tempat
yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi
bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga
mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya.
2. Konteks Waktu
Konteks
waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya
juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang
dilakukannya.
3. Konteks Peristiwa
Tindak
tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa
tertentu. atkan kompensasi tertentu bagi anak.
4. Konteks Suasana
Suasana
yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup
menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan
suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang
dilakukannya.
5. Konteks Orang Sekitar
Ketika
anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang
terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tutur.
1. Pendayagunaan Tindak Tutur dalam
Bahasa Anak-Anak
Ketika
anak-anak bertindak tutur, selalu terdapat konteks yang melatari tuturan
tersebut.Konteks tersebut sangat menentukan dan berpengaruh terhadap peristiwa
tutur yang terjadi antara anak dan mitra tuturnya.Lebih dari itu, ada kalanya
konteks tersebut dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung atau menunjang
agar tujuan tuturannya tercapai.Ada kalanya tempat tertentu, waktu tertentu,
suasana tertentu, peristiwa tertentu, dan keberadaan orang tertentu
dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung dan menunjang keberhasilan tuturan yang
dilakukannya kepada mitra tutur.Pemanfaatan konteks untuk mendukung
keberhasilan tujuan tuturan inilah yang dimaksudkan dengan pendayagunaan konteks.
A. Konteks Tempat
Tempat
yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi
bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga
mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Konteks tempat yang
didayagunakan oleh anak-anak meliputi tempat yang berada di sekitar anak ketika
bertutur dan tempat lain yang tidak berada di sekitar anak yang bersangkut paut
dengan tuturan yang diajukan tersebut.
B. Konteks Waktu
Konteks
waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya
juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang
dilakukannya. Konteks waktu yang didayagunakan oleh anak-anak tidak hanya
dikaitkan dengan waktu sekarang, pada saat tuturan dilakukan, tetapi juga
berkaitan dengan waktu tertentu di masa lalu dan di masa yang akan dating yang
bersangkut paut dengan tuturan anak.
C. Konteks Peristiwa
Tindak
tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa tertentu.Peristiwa-peristiwa
tersebut tidak saja menjadi faktor yang cukup menentukan dalam peristiwa tutur
yang terjadi, tetapui juga sering dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung
keberhasilan tuturannya.Anak-anak sering menggunakan konteks peristiwa ini
untuk memengaruhi pendapat atau pandangan mitra tuturnya sehubungan dengan
tindak tutur yang dilakukannya.Konteks peristiwa yang didayagunakan oleh
anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya dapat berupa peristiwa
tertentu yang merugikan anak dan selayaknya mendapatkan kompensasi tertentu
bagi anak.
D. Konteks Suasana
Suasana
yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup
menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan
suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang
dilakukannya.Suasana yang dimaksud adalah suasana-suasana yang nyaman dan
menyenangkan yang terjadi dalam peristiwa tutur tertentu, terutama suasana hati
yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh mitra tuturnya.
E. Konteks Orang Sekitar
Ketika
anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang
terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tuturnya. Orang
sekitar yang dimaksudkan dalam kajian ini tidak saja berkaitan dengan
orang-orang yang berada di sekitar anak secara langsung ketika anak
menyampaikan tuturannya, tetapi juga orang lain yang berada di tempat lain
tetapi bersangkut paut dengan tuturan yang disampaikan oleh anak. Orang sekitar
ini tidak saja berpengaruh terhadap peristiwa tutur yang terjadi, tetapi lebih
dari itu kebberadaanya jiga sering dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung
keberhasilan tuturan agar dikabulkan oleh mitra tuturnya. Pendayagunaan konteks orang sekitar ini dapat
dilakukan oleh anak-anak dengan menggunakan tiga macam cara. Pertama, dengan
menyebut orang sekitar sebagai pihak yang berkepentingan dengan tuturan yang
dilakukan oleh anak.Kedua, dengan menyebut orang sekitar sebagai pihak
pendukung permintaan yang diajukan oleh anak. Ketiga, pendayagunaan konteks
orang sekitar yang dilakukan dengan cara memanfaatkan pengaruh kehadiran orang
sekitar di antara penutur dan mitra tutur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar