Sabtu, 13 Juni 2015

RESUME KAJIAN WACANA



 DEFINISI KAJIAN WACANA
Istilah wacana berasal dari bahasa sansakerta wac/wak/vak, artinya berkata berucap (Douglas, 1976:262). Menurut Webster wacana diartikan sebagai ucapan lisan dan dapat juga berupa tulisan, tetapi persyaratannya harus dalam satu rangkaian (connected) dan dibentuk oleh lebih dari sebuah kalimat. Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat  atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata. Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang lengkap dan disusun secara teratur dan membentuk suatu makna.
Kajian merupakan suatu kajian disiplin ilmu yang mengkaji wacana Dalam kajian wacana terdapat beberapa macam seperti: tindak tutur, Sosiolinguistik interaksional, Kontribusi Antopologi: Gumperz, Kontruksi Sosiolog: Goffman, Sosiolinguistik Interaksional ke dalam Konteks dan Wacana, dan Pragmatik.
MACAM-MACAM KAJIAN WACANA
A. Tindak Tutur
Konsep mengenai tindak ujaran (Speech Acts) dikemukakan pertama oleh John L. Austin dengan bukunya How to Do Things with Words (1962).Austin adalah orang pertama yang mengungkapkan gagasan bahwa bahasa dapat digunakan untuk melakukan tindakan melalui pembedaan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif.Ujaran konstantif mendeskripsikan atau melaporkan peristiwa atau keadaan dunia.Dengan demikian, ujaran konstantif dapat dikatakan benar atau salah.Sedangkan ujaran performatif, tidak mendeskripsikan benar salah dan pengujaran kalimat merupakan bagian dari tindakan.(Austin, 1962: 5).
Austin membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran, yaitu:
a. Lokusi, yaitu semata-mata tindak bicara, tindakan mengucapkan kalimat sesuai dengan makna kata atau makna kalimat. Dalam hal ini kita tidak mempermasalahkan maksud atau tujuan dari ujaran tersebut.Misal ada orang berkata “saya haus” artinya orang tersebut mengatakan dia haus.
b. Ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara mengenai maksud, fungsi dan daya ujaran yang dimaksud. Jadi ketika ada kalimat ”saya haus” dapat memiliki makna dia haus dan minta minum.
c. Perlokusi, adalah efek yang dihasilkan ketika penutur mengucapkan sesuatu. Misalnya ada kalimat ”saya haus” maka tindakan yang muncul adalah mitra tutur bangkit dan mengambilkan minum.
J.R. Searle kemudian menerbitkan buku Speech Acts yangmengembangkan hipotesa bahwa setiap tuturan mengandung arti tindakan.Tindakan ilokusioner merupakan bagian sentral dalam kajian tindak tutur. Ada lima jenis ujaran seperti yang diungkapkan oleh Searle (1969) antara lain:
a. representatif (asertif), yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya kebenaran atas apa yang dikatakan (misal: menyatakan, melaporkan, mengabarkan, menunjukan, menyebutkan).
b. direktif, tindak ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar mitra tutur melakukan apa yang ada dalam ujaran tersebut (misalnya: menyuruh, memohon, meminta, menuntut, memohon).
c. ekspresif, tindak ujaran yang dilakukanss dengan maksud ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan pada ujaran tersebut (misalnya: memuji, mengkritik, berterima kasih).
d. komisif, tindak ujaran yang mengikat penutur untuk melakukan seperyi apa yang diujarkan (misalnya bersumpah, mengancam, berjanji).
e. deklarasi, tindak ujaran yang dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal yang baru (misalnya memutuskan, melarang, membatalkan).
Ada kalanya tempat tertentu, waktu tertentu, suasana tertentu, peristiwa tertentu, dan keberadaan orang tertentu dimanfaatkan oleh seseorang untuk mendukung dan menunjang keberhasilan tuturan yang dilakukannya kepada mitra tuturnya. Pemanfaatan konteks untuk mendukung keberhasilan tujuan tuturan inilah yang dimaksudkan dengan pendayagunaan konteks
1. Konteks Tempat
Tempat yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya.
2. Konteks Waktu
Konteks waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya.
3. Konteks Peristiwa
Tindak tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa tertentu. atkan kompensasi tertentu bagi anak.
4. Konteks Suasana
Suasana yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya.
5. Konteks Orang Sekitar
Ketika anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tutur.
1. Pendayagunaan Tindak Tutur dalam Bahasa Anak-Anak
Ketika anak-anak bertindak tutur, selalu terdapat konteks yang melatari tuturan tersebut.Konteks tersebut sangat menentukan dan berpengaruh terhadap peristiwa tutur yang terjadi antara anak dan mitra tuturnya.Lebih dari itu, ada kalanya konteks tersebut dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung atau menunjang agar tujuan tuturannya tercapai.Ada kalanya tempat tertentu, waktu tertentu, suasana tertentu, peristiwa tertentu, dan keberadaan orang tertentu dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung dan menunjang keberhasilan tuturan yang dilakukannya kepada mitra tutur.Pemanfaatan konteks untuk mendukung keberhasilan tujuan tuturan inilah yang dimaksudkan dengan pendayagunaan konteks.
A. Konteks Tempat
Tempat yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Konteks tempat yang didayagunakan oleh anak-anak meliputi tempat yang berada di sekitar anak ketika bertutur dan tempat lain yang tidak berada di sekitar anak yang bersangkut paut dengan tuturan yang diajukan tersebut.
B. Konteks Waktu
Konteks waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Konteks waktu yang didayagunakan oleh anak-anak tidak hanya dikaitkan dengan waktu sekarang, pada saat tuturan dilakukan, tetapi juga berkaitan dengan waktu tertentu di masa lalu dan di masa yang akan dating yang bersangkut paut dengan tuturan anak.



C. Konteks Peristiwa
Tindak tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa tertentu.Peristiwa-peristiwa tersebut tidak saja menjadi faktor yang cukup menentukan dalam peristiwa tutur yang terjadi, tetapui juga sering dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya.Anak-anak sering menggunakan konteks peristiwa ini untuk memengaruhi pendapat atau pandangan mitra tuturnya sehubungan dengan tindak tutur yang dilakukannya.Konteks peristiwa yang didayagunakan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya dapat berupa peristiwa tertentu yang merugikan anak dan selayaknya mendapatkan kompensasi tertentu bagi anak.
D. Konteks Suasana
Suasana yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya.Suasana yang dimaksud adalah suasana-suasana yang nyaman dan menyenangkan yang terjadi dalam peristiwa tutur tertentu, terutama suasana hati yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh mitra tuturnya.
E. Konteks Orang Sekitar
Ketika anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tuturnya. Orang sekitar yang dimaksudkan dalam kajian ini tidak saja berkaitan dengan orang-orang yang berada di sekitar anak secara langsung ketika anak menyampaikan tuturannya, tetapi juga orang lain yang berada di tempat lain tetapi bersangkut paut dengan tuturan yang disampaikan oleh anak. Orang sekitar ini tidak saja berpengaruh terhadap peristiwa tutur yang terjadi, tetapi lebih dari itu kebberadaanya jiga sering dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan agar dikabulkan oleh mitra tuturnya.  Pendayagunaan konteks orang sekitar ini dapat dilakukan oleh anak-anak dengan menggunakan tiga macam cara. Pertama, dengan menyebut orang sekitar sebagai pihak yang berkepentingan dengan tuturan yang dilakukan oleh anak.Kedua, dengan menyebut orang sekitar sebagai pihak pendukung permintaan yang diajukan oleh anak. Ketiga, pendayagunaan konteks orang sekitar yang dilakukan dengan cara memanfaatkan pengaruh kehadiran orang sekitar di antara penutur dan mitra tutur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar