Sabtu, 13 Juni 2015

Resume Praanggapan



PRAANGGAPAN

 Pengertian  praanggapan (presuposition) dan implikatur.
1.      Praanggapan
a.       Pengertian
Secara etimologi praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.
Nababan dalam Eva (2012: 11) mengemukakan bahwa praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa yang mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
b.      Jenis-Jenis Praanggapan
Menurut Gorge Yule dalam Eva (2012: 14) Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan,  yaitu :
1)      Praanggapan Eksistensial
Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah praanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit (pasti). Contoh: (a) Orang itu berjalan; (b) Ada orang berjalan.
2)      Praanggapan Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan.
Contoh: (a) Saya gembira bahwa ini berakhir => praamggapan dalam tuturan ini disebabkan kata “gembira” yang diasumsikan “bahwa ini berakhir”. (b) Kami menyesal mengatakan kepadanya => kata “Menyesal” diasumsikan sebagai bentuk kenyataan bahwa “kami” tidak berniat mengatakan hal itu.
(Eva, 2012: 15)
3)      Praanggapan Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional (secara umum) ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. Contoh: (a) Dia Berhenti Bekerja => Kata “berhenti” secara leksikal mempunyai makna tidak beraktivitas. Sehingga kata tersebut mempunyai praanggapan bahwa “dulu dia pernah bekerja”.
4)      Praanggapan Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Contoh: (a) Andi membayangkan bahwa dia kurus; (b) Andi tidak kurus. (c) Tika berpura-pura sakit.
5)      Praanggapan Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah diketahui sebagai masalah. Contoh: (a) Di mana Anda membeli sepeda itu?; (b) Kapan dia pergi?
6)      Praanggapan Konterfaktual
Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa yang dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan. Contoh: (a) Seandainya dia mempunyai ijazah SMA, pastilah akan memperoleh pekerjaan yang lebih layak. (b) Andai kata kamu ikut kuliah mingu lalu, pasti kamu tidak akan mengikuti ujian susulan.
2.      Implikatur (Makana Tersirat)
Konsep implikatur  kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memcahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah Brown dan Yule (1983:1). Sebagai contoh, kalau ada ujaran panas disini bukan? Maka secara implisit/didalamnya penutur menghendaki agar mesin pendingin di hidupkan atau jendela dibuka.
Makna tersirat (implised meaning) atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan dan atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosa kata secara literal (Ihsan, 2011: 93).
Menurut Grice (dikutip Rani, Arifin dan Martutik, 2004: 171), dalam pemakaian bahasa terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh arti konvensional kata-kata yang dipakai. Contoh: “Dia seorang perwira karena itu dia pemberani.
Pada contoh tersebut, penut ur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (pemberani) disebabkan oleh ciri lain (seorang perwira), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau individu itu dimaksud seorang perwira dan tidak pemberani, implikaturnya yang keliru tetapi ujaran tidak salah.

2.1  Deiksis, Referensi dan Inferensi
a.      Deiksis
Deiksis adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “penunjukan”. Sehingga ungkapan yang menunjukan kepada suatu objek disebut dengan ungkapan deiksis (Yule, 1996). Misalnya kita menggunakan ungkapan yang mengandung kata “ini”, “itu”, “-mu”, “-ku”, “-nya”, “disini”, “disana”, “sekarang”, “tadi”, “kemudian”, maka ungkapan itu menjadi ungkapan deiksis. Dengan demikian, ada rujukan yang ‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’.
 Ada tiga jenis deiksis, yaitu :
1)      Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relatif penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu. Marilah kita lihat contoh berikut. A dan B sedang terlibat di dalam percakapan. A mengambil sepotong kue dan mengatakan, “Kue ini enak.” Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini, merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
2)      Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronominal. Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga. Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda, ia, dia, beliau kami, kita kamu, kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
3)      Dieksis Waktu
Dieksis waktu berkaitan dengan waktu relatif penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca. Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda. Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
b.      Referensi dan Inferensi
Adapun variabel-variabel yang bermain dalam deiksis adalah referensi dan inferensi. Referensi adalah rujukan yang dimaksud oleh penutur deiksis, sementara itu inferensi konsep yang kurang lebih harus sama dengan referensi tetapi ada dalam pikiran pendengar. Setiap kata atau ungkapan deiksis yang dituturkan itu merujuk pada objek atau pengertian tertentu (reference) dan pendengar harus memiliki pengetahuan mengenai apa yang dirujuk oleh tuturan itu (inference).
Dalam upaya untuk mencerna referensi penutur, pendengar harus memperhatikan pilihan kata yang digunakan oleh penutur sekaligus mengaitkan  makna kata tersebut dengan gestur penutur (Huang, 2007). Misalnya penutur menggunakan deiksis spasial “itu” seraya menggunakan jari telunjuk, wajah, mata atau yang lain untuk membantu pendengar mengetahui referensi yang dimaksud. Akan tetapi, dapatkah itu terjadi jika ungkapan deiksis itu digunakan atau diproduksi lewat alat komunikasi tak langsung seperti telepon, surat, SMS, dan sebagainya?
Huang (2007:134) menyebutkan bahwa gestur merupakan penggunaan dasar dan simbol seperti kata merupakan penggunaan yang lebih luas. Kedua (gestur dan simbol) memang saling membantu satu sama lain, agar ungkapan dapat dimengerti. Tetapi satu hal yang dilupakan oleh kedua pakar ini adalah kondisi skemata pendengar (addressee) yang juga bermain peran sangat penting dalam penelaahan inferensi.
Skemata pendengar yang berasal dari pengalaman dialogis (pengalaman-pengalaman yang saling berhubungan) seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih penting daripada sekedar membahas bagaimana memproduksi ungkapan deiksis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar