PRAANGGAPAN
Pengertian
praanggapan (presuposition)
dan implikatur.
1.
Praanggapan
a. Pengertian
Secara etimologi
praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa
Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum
pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya
tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.
Nababan dalam Eva
(2012: 11) mengemukakan bahwa praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar
mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa yang
mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya membantu
pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dipakainya untuk mengungkapkan
makna atau pesan yang dimaksud.
b.
Jenis-Jenis Praanggapan
Menurut Gorge Yule dalam Eva (2012: 14)
Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan, yaitu :
1)
Praanggapan Eksistensial
Presuposisi (praanggapan) eksistensial
adalah praanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen
yang diungkapkan dengan kata yang definit (pasti). Contoh: (a) Orang itu berjalan; (b) Ada orang berjalan.
2) Praanggapan
Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif adalah
praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat
dianggap sebagai suatu kenyataan.
Contoh: (a) Saya gembira bahwa ini
berakhir => praamggapan dalam
tuturan ini disebabkan kata “gembira” yang diasumsikan “bahwa ini berakhir”.
(b) Kami menyesal mengatakan kepadanya =>
kata “Menyesal” diasumsikan sebagai bentuk kenyataan bahwa “kami” tidak
berniat mengatakan hal itu.
(Eva, 2012: 15)
3)
Praanggapan Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal
dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara
konvensional (secara umum) ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna
lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. Contoh: (a) Dia Berhenti Bekerja => Kata “berhenti” secara leksikal
mempunyai makna tidak beraktivitas. Sehingga kata tersebut mempunyai
praanggapan bahwa “dulu dia pernah bekerja”.
4)
Praanggapan Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif
adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Contoh: (a) Andi
membayangkan bahwa dia kurus; (b)
Andi tidak kurus. (c) Tika berpura-pura sakit.
5)
Praanggapan Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural
mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai
praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah
diasumsikan kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara
konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah
diketahui sebagai masalah. Contoh:
(a) Di mana Anda membeli sepeda itu?; (b) Kapan dia pergi?
6)
Praanggapan Konterfaktual
Presuposisi (praanggapan) konterfaktual
berarti bahwa yang dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga
merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan. Contoh: (a) Seandainya dia mempunyai ijazah SMA, pastilah akan memperoleh
pekerjaan yang lebih layak. (b) Andai kata kamu ikut kuliah mingu lalu, pasti
kamu tidak akan mengikuti ujian susulan.
2.
Implikatur (Makana Tersirat)
Konsep implikatur
kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memcahkan persoalan makna
bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur
dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh
penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah Brown
dan Yule (1983:1). Sebagai contoh, kalau ada ujaran panas disini bukan?
Maka secara implisit/didalamnya penutur menghendaki agar mesin pendingin di
hidupkan atau jendela dibuka.
Makna tersirat (implised
meaning) atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat dalam
ungkapan lisan dan atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan
secara tidak langsung yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosa kata
secara literal (Ihsan, 2011: 93).
Menurut Grice (dikutip
Rani, Arifin dan Martutik, 2004: 171), dalam pemakaian bahasa terdapat
implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan
oleh arti konvensional kata-kata yang dipakai. Contoh: “Dia seorang perwira
karena itu dia pemberani.”
Pada contoh tersebut,
penut ur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (pemberani)
disebabkan oleh ciri lain (seorang perwira), tetapi bentuk ungkapan yang
dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau
individu itu dimaksud seorang perwira dan tidak pemberani, implikaturnya yang
keliru tetapi ujaran tidak salah.
2.1 Deiksis,
Referensi dan Inferensi
a.
Deiksis
Deiksis adalah istilah
yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “penunjukan”. Sehingga ungkapan
yang menunjukan kepada suatu objek disebut dengan ungkapan deiksis (Yule,
1996). Misalnya kita menggunakan ungkapan yang mengandung kata “ini”, “itu”,
“-mu”, “-ku”, “-nya”, “disini”, “disana”, “sekarang”, “tadi”, “kemudian”, maka
ungkapan itu menjadi ungkapan deiksis. Dengan demikian, ada rujukan yang
‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’.
Ada tiga jenis deiksis, yaitu :
1)
Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi
relatif penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam
bahasa Indonesia, misalnya, kita
mengenal di sini, di situ, dan di
sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu. Marilah kita
lihat contoh berikut. A dan B sedang terlibat di dalam percakapan. A mengambil
sepotong kue dan mengatakan, “Kue ini enak.” Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini,
tentu akan disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan
B berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini,
merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur.
Selain itu, ada kata-kata seperti di
sana dan itu yang merujuk pada
sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh
penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang.
Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita
memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai
kata begitu.
2)
Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada
bentuk-bentuk pronominal. Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas
pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga.
Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan
bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang
ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda, ia, dia, beliau kami, kita kamu,
kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya
sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak
hanya kamu atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
3)
Dieksis Waktu
Dieksis waktu berkaitan dengan waktu
relatif penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca. Pengungkapan waktu
di dalam setiap bahasa berbeda-beda. Ada yang mengungkapkannya secara leksikal,
yaitu dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan
sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu
yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif,
dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
b.
Referensi dan Inferensi
Adapun
variabel-variabel yang bermain dalam deiksis adalah referensi dan inferensi. Referensi adalah rujukan yang dimaksud
oleh penutur deiksis, sementara itu inferensi
konsep yang kurang lebih harus sama dengan referensi tetapi ada dalam pikiran
pendengar. Setiap kata atau ungkapan deiksis yang dituturkan itu merujuk pada
objek atau pengertian tertentu (reference)
dan pendengar harus memiliki pengetahuan mengenai apa yang dirujuk oleh tuturan
itu (inference).
Dalam upaya untuk
mencerna referensi penutur, pendengar harus memperhatikan pilihan kata yang
digunakan oleh penutur sekaligus mengaitkan makna kata tersebut dengan gestur penutur
(Huang, 2007). Misalnya penutur menggunakan deiksis spasial “itu” seraya
menggunakan jari telunjuk, wajah, mata atau yang lain untuk membantu pendengar
mengetahui referensi yang dimaksud. Akan tetapi, dapatkah itu terjadi jika
ungkapan deiksis itu digunakan atau diproduksi lewat alat komunikasi tak
langsung seperti telepon, surat, SMS, dan sebagainya?
Huang (2007:134)
menyebutkan bahwa gestur merupakan penggunaan dasar dan simbol seperti kata
merupakan penggunaan yang lebih luas. Kedua (gestur dan simbol) memang saling
membantu satu sama lain, agar ungkapan dapat dimengerti. Tetapi satu hal yang
dilupakan oleh kedua pakar ini adalah kondisi skemata pendengar (addressee) yang juga bermain peran
sangat penting dalam penelaahan inferensi.
Skemata pendengar yang
berasal dari pengalaman dialogis (pengalaman-pengalaman yang saling
berhubungan) seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih penting daripada
sekedar membahas bagaimana memproduksi ungkapan deiksis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar