“ Terus mak,
kalau pak Gareng
itu presiden negara kita, rumah-rumah kecil kita bagaimana? kan juga butuh presiden to mak, terus kalau
begitu presidan kita itu siapa mak,?.
terus di mana
presiden kitamak? kok tidak pernah
kelihatan, terus presiden kita itu baik atau buruk mak terus...?”. Belum
selesai kalimat itu terucap dari bibir alif mak sri memotongsingkat semua
pertanyaannya yang beruntun itu.”Presiden kita itu hanya kamu yang tahu lif,
jangan bertanya lagi coba cari tahu, mungkin presiden kita ada di antara
rumah-rumah kecil kita. Besok datanglah lagi dengan hasil jawabanmu”. Kemudian
mak sri berlalu hingga hilang di ujung jalan.
Burung
belibis sorak bersorai menyemarakkan pagi di seluruh pelosok rumah-rumah kecil
itu, nampak lengang dengan gemulai angin yang mengibas-ibaskan rerumputan, di
ujung terlihat beberapa ayam sudah siap bekerja dengan giat beserta
anak-anaknya. Pelataran itu terlihat indah dengan beberapa macam bunga lili,
neon-neon kecil masih nampak menyala, remang-remang diantarapagi. di bawah
lampu itu mata berbulu lebat terpejam, bibir terkatub dibalik selimut ungu
sedikit senyum mengembang setelah semalam berbaur dengan hujaman mimpi indah
yang bertubi-tubi. “ kriiingg...” suara alarm yang terletak di atas mejanya berdering tepat
pukul lima pagi. Alif mengucek matanya,sambil
beranjak menyambarhanduk yang ada di samping tempat tidurnya. langkahnyaterseret
membawa Alif beranjak pergi untuk mandi. Setelah mandi ia sudah rapi dan
tidak sabar untuk menemui mak Sri.
Setiap harinya selesai sekolah entah kenapa alif suka sekali mampir kerumah mak
Sri, ya meskipun hanya sekedar minta air putih ama umbi hasil dari
pekarangannya. Sejak kecil, mak sri memanglah orang yang merawat alif, pantaslah jika alif suka sekali main
kerumahnya, lebih-lebih setelah Mak sri tidak lagi bekerja pada keluarganya.
“
Mak...mak...” langkahnya menghentakkan tanah di pekarangan mak Sri yang tidak
terlalu luas. Alif sudah hafal jika jam segini mak pasti ada di pekarangan. “
Mak...” sekali lagi ia mengulagi panggilannya Tidak lama kemudian mak Sri
terlihat keluar dari balik dedaunan
umbi-umbian yang semakinmeninggi itu. Mata alif cukup jeli untuk melihat
hal-hal yang gamblang seperti itu. Alif memang suka bertanya kepadanya tentang
banyak hal, terkadang juga mak Sri hanya manggut-manggut saja saat mendengarkan
cerita alif. Usianya yang terbilang dini membuat mak Sri terasa geli
mendengarnya. Lebih-lebih saat alif menanyakan perihal kepresidenan
kepadanya.“Semakin besar pertanyannya semakin aneh saja” gumam Mak Sri
diam-diam. Yang terakhir alif menanyakan tentang kepresidenan.Siapa
Presidennya, dimana tempatnya dan lain-lain. “ Gimana lip, sudah tau
jawabannya?”. Mak membuka percakapan siang itu dengan nada santai seperti
biasanya. Terlihat bola mata Alif bulat berbinar-binar manyalami tangan mak
dengan rekahan senyumannya.
“ Presiden kita itu ya presidennya
semua orang ya mak,mungkin sama dengan presiden negara ”. Celetuk alif dengan
semangatnya. “ memangnya menurutmu seorang presiden itu yang bagaimana?” sergah
mak Sri. Alif nampak berpikir akan pertanyaan mak kepadanya. Alif terdiam
menimang nimang jawaban yang tak kunjung
datang. Mak Sri hanya tersenyum tipis kepada Alif sambil menyuguhkan beberapa
ubi bakar. “ kalau menurut Emak,,presiden itu yang bagaiman?. Mak Sri terkekeh
sambil berlalu membereskan barang-barang yang masih tertinggal di kebun.
Mendapati hal yang demikian Alif semakin bingung. Nampak wajahnya yang polos
memperhatikan mak Sri berlalu meninggalkannya penuh kebingungan.
Lagi-lagi Alif pulang dengan
mengantongi ubi bakar kesukannya dan pertanyaan-pertanyaan yang bergelantugan
di pelupuk matanya. Kali ini tidurnya tidak tenang, mengingat presiden dan
rumah-rumah kecil. Siapa itu Presiden? Usinya yang masih menginjak tiga belas
tahun membuatnya tidak bisa terlalu jauh menalar jawaban dari semua teka-teki
mak Sri. “Ah sebaiknya nantiaku tanyakan saja kepada ayah” batinnya dalam
hati.Selama perjalanan Alif hanya diam memikirkan jawaban yang tepat. Rasa
penasarannya semakin meninggi apa yang sebenarnya Mak sri maksudkan dengan
menyuruhnya mencari jawannya sendiri.Di jalan depan terlihat ada pak pentol
mangkal seperti biasa. Tanpa pikir panjang Alif langsung mehampirinya. “ pak
bejo, pak bejo... Presiden itu apa ya?” dengan lugunya alif terlihat sedikit
menggemaskanketikatiba-tibadatanglangsungmenanyakanhal
yang konyolsepertiitu. Pak Bejo hanya terkekeh sambil
menjawab “ Presiden itu adalah orang yang memberikanmu permen lip,... ”. alif
manggut-manggut mendengarkan pak Bejo.
Berarti presiden itu orang yang
memberikan kita uang, terus nanti uangnya buat beli permen itu paling ya yang
dimaksud pak Bejo. Alif mencoba menerjemahkan kata-kata dari pak Bejo.
Keesokanya Alif segera meluncur ke pekarangn Mak Sri. Tapi di pekarangan tidak
tampak sosok mak yang anggun dengan keriputnya. Alif mencarinya di seluruh
tempat-tempat yang biasa disinggahi mak beristirahat ataupun menyiapkan
makanannya sendiri. “ mungkin Mak lagi ke pasar “ Alif menggumam sendiri sambil
berlalu. Hari berikutnya Alif mendatangi pekarangan itu lagi, tapi nihil. Lagi-lagi mak tidak adadi pekarangan
itu.
Alif
mulai gelisah dengan menghilangnya mak Sri, didalam benaknya hanya ada presiden
dan tuturan mak. Lalu bagaimana jika mak
menghilang selamanya...? bagaimana nasib rumah-rumah kecil ini. Siapa presiden
itu...?. Sedang semakin hari mak Sri semakin hilang tertelan angin.
Keberadaannya sudah tak diketahui lagi dimana rimbanya. Lalu bagaiman...?
Malam-malamnya
berlalu semakin menggelisahkan, wajah mak ada disetiap kedipan matanya.
Bayangan mak Sri selalu datang mencabiknya bertubi-tubi sehingga Alif selalu
terjaga dari tidurnya.Kunang-kunang tak lagi menyala indah. Neon-neonpun
semakin meremang. Bagaimana wajah mak
saat ini?.
Alif
melemah merindukan pekarangan itu, dia membawa serta presiden dalam
genggamannya. Megujungi ubi-ubi yang kian menguning itu. “Mak Sri... mak... “
air mata Alif meniti di ujung pelupuknya,
sedikit
sesenggukan mendengar suara Mak dalam angin. Sekarang aku tahu mak... presiden
itu selalu dalam pencarian yang tiada ujungnya.
Ana nias23
Jombang 2 juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar