Selasa, 01 Juli 2014

cerpen presiden tanpa nama



“ Terus mak, kalau pak Gareng itu presiden negara kita, rumah-rumah kecil kita bagaimana? kan  juga butuh presiden to mak, terus kalau begitu presidan kita itu siapa mak,?. terus di mana presiden kitamak? kok tidak pernah kelihatan, terus presiden kita itu baik atau buruk mak terus...?”. Belum selesai kalimat itu terucap dari bibir alif mak sri memotongsingkat semua pertanyaannya yang beruntun itu.”Presiden kita itu hanya kamu yang tahu lif, jangan bertanya lagi coba cari tahu, mungkin presiden kita ada di antara rumah-rumah kecil kita. Besok datanglah lagi dengan hasil jawabanmu”. Kemudian mak sri berlalu hingga hilang di ujung jalan.
Burung belibis sorak bersorai menyemarakkan pagi di seluruh pelosok rumah-rumah kecil itu, nampak lengang dengan gemulai angin yang mengibas-ibaskan rerumputan, di ujung terlihat beberapa ayam sudah siap bekerja dengan giat beserta anak-anaknya. Pelataran itu terlihat indah dengan beberapa macam bunga lili, neon-neon kecil masih nampak menyala, remang-remang diantarapagi. di bawah lampu itu mata berbulu lebat terpejam, bibir terkatub dibalik selimut ungu sedikit senyum mengembang setelah semalam berbaur dengan hujaman mimpi indah yang bertubi-tubi. “ kriiingg...” suara alarm  yang terletak di atas mejanya berdering tepat pukul lima pagi.  Alif mengucek matanya,sambil beranjak menyambarhanduk yang ada di samping tempat tidurnya. langkahnyaterseret membawa Alif beranjak pergi untuk mandi. Setelah mandi ia sudah rapi dan tidak  sabar untuk menemui mak Sri. Setiap harinya selesai sekolah entah kenapa alif suka sekali mampir kerumah mak Sri, ya meskipun hanya sekedar minta air putih ama umbi hasil dari pekarangannya. Sejak kecil, mak sri memanglah orang yang merawat alif,  pantaslah jika alif suka sekali main kerumahnya, lebih-lebih setelah Mak sri tidak lagi bekerja pada keluarganya.
“ Mak...mak...” langkahnya menghentakkan tanah di pekarangan mak Sri yang tidak terlalu luas. Alif sudah hafal jika jam segini mak pasti ada di pekarangan. “ Mak...” sekali lagi ia mengulagi panggilannya Tidak lama kemudian mak Sri terlihat keluar dari balik  dedaunan umbi-umbian yang semakinmeninggi itu. Mata alif cukup jeli untuk melihat hal-hal yang gamblang seperti itu. Alif memang suka bertanya kepadanya tentang banyak hal, terkadang juga mak Sri hanya manggut-manggut saja saat mendengarkan cerita alif. Usianya yang terbilang dini membuat mak Sri terasa geli mendengarnya. Lebih-lebih saat alif menanyakan perihal kepresidenan kepadanya.“Semakin besar pertanyannya semakin aneh saja” gumam Mak Sri diam-diam. Yang terakhir alif menanyakan tentang kepresidenan.Siapa Presidennya, dimana tempatnya dan lain-lain. “ Gimana lip, sudah tau jawabannya?”. Mak membuka percakapan siang itu dengan nada santai seperti biasanya. Terlihat bola mata Alif bulat berbinar-binar manyalami tangan mak dengan rekahan senyumannya.
            “ Presiden kita itu ya presidennya semua orang ya mak,mungkin sama dengan presiden negara ”. Celetuk alif dengan semangatnya. “ memangnya menurutmu seorang presiden itu yang bagaimana?” sergah mak Sri. Alif nampak berpikir akan pertanyaan mak kepadanya. Alif terdiam menimang nimang jawaban yang  tak kunjung datang. Mak Sri hanya tersenyum tipis kepada Alif sambil menyuguhkan beberapa ubi bakar. “ kalau menurut Emak,,presiden itu yang bagaiman?. Mak Sri terkekeh sambil berlalu membereskan barang-barang yang masih tertinggal di kebun. Mendapati hal yang demikian Alif semakin bingung. Nampak wajahnya yang polos memperhatikan mak Sri berlalu meninggalkannya penuh kebingungan.
            Lagi-lagi Alif pulang dengan mengantongi ubi bakar kesukannya dan pertanyaan-pertanyaan yang bergelantugan di pelupuk matanya. Kali ini tidurnya tidak tenang, mengingat presiden dan rumah-rumah kecil. Siapa itu Presiden? Usinya yang masih menginjak tiga belas tahun membuatnya tidak bisa terlalu jauh menalar jawaban dari semua teka-teki mak Sri. “Ah sebaiknya nantiaku tanyakan saja kepada ayah” batinnya dalam hati.Selama perjalanan Alif hanya diam memikirkan jawaban yang tepat. Rasa penasarannya semakin meninggi apa yang sebenarnya Mak sri maksudkan dengan menyuruhnya mencari jawannya sendiri.Di jalan depan terlihat ada pak pentol mangkal seperti biasa. Tanpa pikir panjang Alif langsung mehampirinya. “ pak bejo, pak bejo... Presiden itu apa ya?” dengan lugunya alif terlihat sedikit menggemaskanketikatiba-tibadatanglangsungmenanyakanhal yang konyolsepertiitu. Pak Bejo hanya terkekeh sambil menjawab “ Presiden itu adalah orang yang memberikanmu permen lip,... ”. alif manggut-manggut mendengarkan pak Bejo.
            Berarti presiden itu orang yang memberikan kita uang, terus nanti uangnya buat beli permen itu paling ya yang dimaksud pak Bejo. Alif mencoba menerjemahkan kata-kata dari pak Bejo. Keesokanya Alif segera meluncur ke pekarangn Mak Sri. Tapi di pekarangan tidak tampak sosok mak yang anggun dengan keriputnya. Alif mencarinya di seluruh tempat-tempat yang biasa disinggahi mak beristirahat ataupun menyiapkan makanannya sendiri. “ mungkin Mak lagi ke pasar “ Alif menggumam sendiri sambil berlalu. Hari berikutnya Alif mendatangi pekarangan itu lagi, tapi  nihil. Lagi-lagi mak tidak adadi pekarangan itu.
Alif mulai gelisah dengan menghilangnya mak Sri, didalam benaknya hanya ada presiden dan tuturan mak.  Lalu bagaimana jika mak menghilang selamanya...? bagaimana nasib rumah-rumah kecil ini. Siapa presiden itu...?. Sedang semakin hari mak Sri semakin hilang tertelan angin. Keberadaannya sudah tak diketahui lagi dimana rimbanya. Lalu bagaiman...?
Malam-malamnya berlalu semakin menggelisahkan, wajah mak ada disetiap kedipan matanya. Bayangan mak Sri selalu datang mencabiknya bertubi-tubi sehingga Alif selalu terjaga dari tidurnya.Kunang-kunang tak lagi menyala indah. Neon-neonpun semakin meremang. Bagaimana  wajah mak saat ini?.
Alif melemah merindukan pekarangan itu, dia membawa serta presiden dalam genggamannya. Megujungi ubi-ubi yang kian menguning itu. “Mak Sri... mak... “ air mata Alif meniti di ujung pelupuknya, sedikit sesenggukan mendengar suara Mak dalam angin. Sekarang aku tahu mak... presiden itu selalu dalam pencarian yang tiada ujungnya.


Ana nias23
Jombang 2 juli 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar