Kamis, 26 Juni 2014

cerpen islam masa kini ( LA TAHZAN )



          La Tahzan kasihku,..

Serupa purnama,.. akulah angin yang Paling sempurna untuk sujudmu.Dan sebagaimana pagi,tangismu akan menuju muara dhuha dalam hatiku.


*****
Terlihat jelas sayap-sayap malaikat mengkhitbah puncak naungan tertinggi.Menyebarkan  nuansa pagi dalam petuah-petuah doa yang Terucap dalam seribu bahasa.Masjid Fathul Jannah pagi ini sesak dengan kerumunan santri  yang hendak menjejali shof  jama’ah sholat dhuha.Kerling bening wajah terbasuh air wudhu yang menjadikan wajah mereka nampak berseri kian indah dimata para malaikat sekitarnya.Salah satu dari mereka melangkah ke depan sebagai jendral dalam pertemuan sakral bersama sang khaliq. Bertakbir, mengagungkan yang maha cinta.Muhammad Zafarin Azam begitu hikmat menentukan titik kolaborasi lafal serta gerakan sholatnya.Dekapan dhuha yang begitu agung menjadi perisai di antara sang  pecinta kekasih dalam sujud
Assalamualaikum warohmatullahiwabarakatuh...”.Setelah menyelesaikan sholat dhuha. Azam secara khusyuk bermunajat mengurai doa,untuk yang maha segalanya tempat seorang hamba bersimpuh dalam segala kepiluan dan kenikmatan hidup.Aduhai menawan semua perawakannya,bicaranya begitu bijak, pandangannya teduh, apa lagi sesaat kala dia tersenyum, matahari seumpama kristal dalam sajak-sajak tasbihnya.Sesosok Azam memanglah mampu membuat langit biru meneteskan kerinduan untuk semua awan yang berpijak.
Setelah sholat dhuha, Azam bergegas meninggalkan masjid sambil menenteng buku catatan.Buku pemberian ummi sebagai hadiah saat Azam meraih gelar terbaik waktu kuliah di Kairo. Rencananya hari ini Azam ingin mengunjungi danau yang tak jauh dari kawasan pondok.
Sebuah danau yang ia rindukan setelah 5 tahun kepergiannya ke Negri Gurun sekedar mengantongi dahaga akan ilmu,tempat berlarinya Azam waktu kecil saat di kejar-kejar ummi untuk sholat,tempat Azam membantu abah untuk menimba air dari danau bersama para ikhwan di pondok. Dan tempat bersembunyinya Azam saat dimarahi ummi gara-gara nggak mau ngaji.”Ah....!sungguh aku rindu akan semua itu,....”. Gerutunya dalam hati.Pagi ini kesejukan angin berhembus tanpa tawanan,Azam termenung  memadati semua hamparan kristal dalam beludru pepohonan.Hatinya begitu hanyut mengenang Azam kecil,yang sedang terbahak-terbahak digelitiki ummi.
Tapi tiba-tiba disudut danau pandangannya terhalau sepasang mata diantara bias-bias pelangi Allah.Ya suatu keindahan yang asing baginya,tak dapat diikat dan diukur cara pendeskripsiannya.Inilah prosa para pujangga penawar cinta. Bahkan keanggunan perempuan kairopun dalam sekejap lenyap karenanya.
Dan demi dhuha,..ku temukan seteguk
Angin yang memabukkanku tuk melihatnya
Sebagai mahkota hati yang sedang berbunga
Aku mengagumi keindahannya karenamu
Subhanallah...”.
 Azam terbius akan sosok itu.Gadis bermata biru,dengan gaun putih berpadu warna biru langit, membuatnya begitu anggun meski dari kejauhan, seandainya bukan batas syariat dan bukan batas seorang muslim terhadap muslimah yang bukan mahram, Azam sudah sedari tadi meluncur menghamburkan rasa penasarannya pada gadis itu.Mengajaknya ta’aruf dan berkeliling danau barang sebentar.Tapi tetap saja Azam harus mengerti jika dia putra dari beliau, Abah Mahfud pengasuh di pesantren ini.Dia harus tau aturan dan tata krama.
“Hayooo........!!!!Kak Azam nglamunin apa hayo.,...cie..cie..ketahuan…”.Tiba-tiba si bungsu Annida Fauziyah sambil cekikikan hampir memutilasi jantung  Azam dalam satu waktu sekaligus. “ Nida.......!!!  mesti kamu tu ya bikin kakak hampir jantungan gara-gara kamu kagetin, awas pokoknya kakak  gelitikin sini...!! biar tahu rasa....!!!”.  Sambil  menggerutu Azam mengejar adiknya yang keburu lari sebelum Azam sempat menangkapnya.Nida yang begitu lincah berlari, cukuplah membuat Azam terengah-engah kehabisan tenaga. Keduanya asyik dengan dunia mereka.
 “Naah.....kena...!!!!”. Azam dengan bangga menangkap adiknya setelah sekian lama adikya membuatnya harus berfikir keras memutar otak mencari celah untuk menangkapnya. “Aaaah,....Kakak..jangan,katanya Kak Azamkan orang baik,...jangan hukum Nida ya Kak..,kan Nida cuman bercanda, Nida janji dech gak ngerjain kak Azam lagi”. Dengan wajah memelas gadis berumur 10th itu mencoba merayu Azam. “Zeee...ya gak bisa gitu dong,pokoknya adek harus dapat imbalannya soalnya udah ngerjain kakak.Sekali lagi Azam menambah gelitikan mautnya pada badan Adiknya yang sedang ada dalam pangkuannya.Dan untuk kesekian kalinya pula Nida menjerit kegelian karna ulah kakaknya itu. “Kak Azam udah dong kak,.. Nidakan udah minta maaf. Sambil cekikikan Azam semakin menggoda adik imutnya itu. “Ok dech Kakak maafin, tapi ada syaratnya,Gimana..???”. Sambil mencet Hidung mungil si Nida. “Auuwh.....kakak sakit...!!!.kok maafinnya gak ikhlas gitu sih.. pake syarat segala..” “lha mau gak kok..??? atau mau ini lagi...??”. Azam menambah peluru gelitikan maut pada badan Nida sambil tertawa senang. “Aaaa...Ummi..kak Azam jahat...!!!Iya dech iya...Nida nyerah tapi kakak berhenti gelitikin Nida..Emang apa syaratnya???”.
*****
       Harumya bak semerbak kasturi,wajahnya seanggun pelangi,kedua matanya indah melebihi keindahan cinta di negri ini.Dengan bisikan takbir dia menatap ke depan,menerjang imajinasi.Tangannya belepotan dengan tinta kesayangannya. Menggambarkan tuangan kasih yang berpadu pada lukisan didepannya.
“Kakak suka melukis.??”.Tiba-tiba suara manja menggemaskan itu membuyarkan imajinasinya.dia menoleh pada gadis mungil itu. Mengangguk seraya tersenyum. “Wah...!!lukisan Kakak indaaaahhh sekali, Kakak suka melukis disini za...???”. Dan sekali lagi perempuan itu tersenyum dan mengangguk pertanda dia membenarkan apa yang diucapkan Nida barusan.Terlihat lesung pipi yang menghias senyuman perempuan itu begitu manis dan elegan.
“Dulu Nida juga sering kesini sama Kak Azam,karena danau ini adalah tempat favoritnya Nida sama Kak Azam.Tapi setelah Kak Azam ke Kairo Nida gak ada yang nemenin maen lagi kesini.Tapi hari ini Nida gak akan kesepian lagi, Kakak tahu kenapa???”. Perempuan itu menggeleng. “Karna Kak Azam udah janji sama Nida kalau kakak gak akan ninggalin Nida lagi”.Sahut Nida dengan kepolosannya. Perempuan itu menarik Nida dalam pelukannya, bibirnya tersenyum tulus, penuh kelembutan.Kedua tangannya mencubit pipi  Nida sambil tersenyum.Semuanya berjalan begitu indah tanpa di sadari ada sepasang mata ikut menikmati keindahannya dari ujung danau.
 “Oh iza nama kakak siapa…???kok sedari tadi kakak nggak jawab Nida siih…?? Atau, nida salah ngomong za..Kak”.Perempuan itu mengelus kerudung putih Nida beriringan dengan senyuman yang selalu terpancar melewati ruas bibir yang menggemulai merah segar itu. lalu memberikan sebuah buku novel kecil padanya. “Ini untuk Nida,…???”. Nida agak keheranan  menerima buku itu.Setelah selesai memberesi semua alat-alatnya,Perempuan itu lalu melangkah tersenyum disertai anggukan kecil pergi meninggalkan Nida dan novel darinya. “Kakak…,tunggu..!!”. Nida sedikit berlari mengejar perempuan itu. “Kakak terima kasih za…Nida pasti akan sayang sekali sama buku ini.Meskipun Nida belum tau nama kakak, Nida yakin, nama Kakak pastilah sangat indah, ya seindah lukisan itu. Kak Azam juga ngucapin terima kasih ke Kakak,coba dech kakak lihat Itu…!”. Telunjuk sibungsu Nida mencoba mengarahkannya ke ujung danau.Terlihat Azam melambaikan tangannya, pancaran senyuman yang begitu menawan pada kedua bibirnya meranumkan setiap taman hati seorang hawa, dan kedua tangannya ia rapatkan didepan dadanya  layaknya seorang muslim yang sedang berta’arufan dengan lawan jenisnya. Perempuan itu tersenyum, sejurus kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
*****
Malam ini Pondok pesantren Darussalam penuh dengan hingar bingar  lantunan sholawat,Suasana yang memukau semua mata menjadi santapan hangat untuk para santri.Tepatnya di Aula Pondok,para mudabbir mengadakan acara lomba Diba' Akbar  yang di sertai oleh santri putra dan santri putri dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW.Dan Azam dipercayai Abah untuk menjadi penanggung jawab acara ini.Semuanya berjalan dengan tertib satu persatu para peserta maju menampilkan karya terbaik mereka.Setiap kelompok menampilkan jagoan mereka masing-masing.Bersaing secara sehat dan menjunjung totalitas kelompok masing-masing.Karena Pondok putra dan Pondok putri dibawah satu naungan yayasan, maka pastinya perlomba’an kali ini sangatlah ketat tingkat persaingannya.
Abah Mahfud dan ummi Aisyah memasuki ruangan dengan pakaian yang serba putih dan tidak lupa surban hijau terpasang di atas leher abah menambah karisma dan sifat bijak abah.Dan Umi Aisyah berjalan disamping Abah, Aura kecantikan ummi Aisyah tak luput dari  pandangan.Semuanya terpana oleh beliau sang teladan. Sedangkan Azam layaknya pangeran dari singgasana raja berjalan dibelakang Abah dan Ummi bersama Nida menuju tempat duduk yang terletak paling  depan . Baju koko bermotif, membaiat semua mata untuk tidak melepaskan pandangannya.Semuanya terlihat selaras.
Acara pembukaan sudah terlaksana kini acara selanjutnya yaitu pembacaan Ayat suci Al-qur’an yang kabarnya akan dibawakan oleh seorang santriwati. Terlihat sesosok perempuan maju kedepan diiringi dua orang teman, yang satu memapah dan yang satu menjadi sari tilawah. Azam agak tercengang melihat pemandangan itu hatinya berdetak kencang penuh gemuruh kerinduan.Dalam dadanya terpapar sejuta pertanyaan. “Gadis itu kan…???”. Dengan cepat Azam membuka memorinya beberapa bulan lalu.Waktu itu kenangan di Danau masih terlihat jelas dalam benaknya.Ya gadis itu adalah “Zalfa nafisha ramadhani” sesuai dengan nama yang tertulis didalam buku novel kecil yang tempo dulu diberikan pada Nida. “Gak salah lagi…. dia pasti Zalfa penulis serta pelukis itu…!!!”. Azam sedikit berdiskusi dengan pikirannya. Hati Azam mendayu ndayu begitu riang,dunia ini seakan langsung berwarna dengan gemilau bintang,apa yang selama ini mengganggu tidurnya,kini sudah ada penawarnya. Ya,penawar hati Azam yang terlunta –lunta dirundung kerinduan. Pada perempuan yang dulu belum sempat menyebutkan namanya pada adiknya Nida itu. Beruntung sekali dulu Nida mau membantunya, setidaknya Azam bisa mengetahui namanya lewat buku pemberian perempuan cantik itu yang ternyata bernama “Zalfa”. Azam tidak akan pernah menyangka bisa melihatnya lagi disini. Apa lagi ketika mendengar suaranya waktu melantunkan Ayat-ayat suci,subhanallah,..tak ada yang bisa melukiskannya melalui kata,semua tamu dan peserta begitu tercengang mendengar suaranya yang sangat merdu itu.
Acara berakhir tepat jam sepuluh malam,semuanya berjalan sempurna.Setelah acara penutupan, semua peserta kembali ke kamarnya masing-masing.Paling tinggal para mudabbir saja yang masih beres-beres. Sedang Abah Mahfud, Ummi Aisyah,Azam dan Nida baru saja ke ndalem setelah mengikuti kegiatan para santri. Yang Ummi, langsung mengajak Nida ke Kamar,sedang Abah masih berbincang-bincang dengan Azam seputar acara yang baru saja selesai. Abah Mahfud sungguh tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya pada Azam yang sudah berhasil membimbing para mudabbir untuk menggelar acara yang meriah seperti yang barusan digelar.Apa lagi Azam baru saja menyandang gelar license di Kairo.Sungguh bukan main rasa syukur yang tertuang untuk Azam.Tak jarang Abah sesekali terbahak-bahak mendengar cerita petualangan Azam di Kairo. “Azam..abah bangga sama kamu, suatu saat abah pastilah akan sangat bahagia melihatmu memimpin pesantren ini,,”. “ Dan semua yang Azam rasakan ini juga tak luput dari restu Abah..”. Azam menjawab perkataan Abah. “Zam…perlu kamu tahu juga,umurmu hampir 27 tahun. Dan sudah waktunya kamu menikah,Ummikmu  sudah mewanti-wanti cucu darimu”. Lagian kamu sudah sarjana,apa lagi yang kamu tunggu..???”. Azam terdiam sejenak mencoba merenungi apa yang Abah paparkan padanya. “Maafkan Azam bah, Azam belum menemukan pendamping yang pas untuk  Azam jadikan makmum kelak,selain itu Azam juga merasa belum bisa menjadi seorang imam yang baik serta bijak,yang kelak akan menjadi panutan untuk keluarga..”. Mendengar hal itu Abah tersenyum sangat lembut sembari berkata. “Oalah to Zam…trus buat apa kamu kuliah jauh-jauh sampai Kairo kalo jiwamui sebesar tempe. Masalah pendamping Ummi dan Abah sudah siapkan calon untukmu dia cantik dan seorang hafidhah, dan Abah harap kamu bisa membimbingnya dalam menjaga hafalannya.Sayangnya dia mengalami kecacatan fisik, ada gangguan pada kornea matanya yang menyebabkan dia buta”. Kali ini Azam benar-benar risau, bayangan Zalfa seolah semakin menelusuri pelupuk matanya.Apakah mungkin pilihan Abah benar-benar bisa membawa Azam pada samudra kerinduan yang tak berkesudahan seperti rindunya pada sang bunga hati “Zalfa”
Hari ini genap 6 bulan setelah Abah mempertemukan Azam padanya. Seorang Wanita sholiha yang ternyata adalah seorang gadis yang membuatnya mabuk kerinduan.Awalnya Azam juga sempat kaget mendapati semua itu tapi mungkin memang sudah garis takdir untuknya Dan minggu depan Adalah momen sakral yang ia nanti-nantikan.Tak terbayangkan betapa anggunnya kelak Zalfa saat dipinangnya.Tiba-tiba hp yang tergeletak diatas meja membangunkan Azam dari lamunannya
“sebelum ku lukis jejakmu
Maka izinkan puisiku bersajak atas gejolak hati,,”
Azam membalas :
Dan demi fajar maka bentangan puisimu adalah bentangan samudra harapan
Sms itu  Sudah tidak lagi dibalas. Entahlah, Azam sendiri sering bingung siapa dan dimanakah pengirim pesan –pesan itu. Bahasanya menandakan kepedihan setiap kata menyimpan seribu pertanyaan. Siapakah pengirim pesan misterius itu.????
*****
Zalfa Nafisha Ramadhani menangis tersedu, batinnya remuk redam membubuhi gejolak hati yang kian menggunung. Haruskah dia diam sedang seorang yang teramat ia cintai besok akan resmi menjadi suami kakaknya sendiri???.Azam, sadarkah dia jika yang dijodohkan Abahnya adalah zalfa fariha bukan Zalfa Nafisha???. Kenangan itu benar sempurna merobek hatinya.Seandanya Allah izinkan dia berbicara, maka pastilah semuanya tidak akan seperti ini. Dan pasti sekarang ini dia sedang menunggu momen bahagianya.Tapi Allah tidak izinkan dia berbicara dia bisu,kenapa harus dia tuhan,???.Tapi apakah mungkin itu agar dia mengerti bahwa akar cintanya bisa dia hadiakan untuk menjadi pelengkap kak Zalfa fariha sebagai purnama untuk sang Azam…
Hari ini bukan mendung yang menjadikannya kelabu. Alunan musik kebahagiaan itu dalam sekejap terhenti. Mimpi yang semula terukir rapi, kini pupuslah sudah. Bendera kedukaan ikut terbentang, bersaksi atas kepergian” Zalfa Nafisha Ramadhani. Untuk menghadap kekasih yang tiada yang tertandingi batasnya.Dan sungguh ini adalah pesan terakhir Zalfa untuknya titian hati seorang Azam yang tak pernah lupus dari lukisan sang perisai kerinduan. Azam tetaplah yang terindah diantara puisi-puisi yang terkirim tanpa nama.Azam tetaplah jiwa diantara dzikir yang teruntai dalam setiap sholatnya.Biarlah deru malaikat yang menyampaikan bahwa dia bahagia melihat semuanya.
Untuk yang terkasih
Muhammad Zafarin Azam
Sesungguhnya Zalfa sangatlah beruntung pagi itu ada seorang pemuda yang mampu mengaduk-aduk kerinduanku yang tiada batas dan seandainya Zalfa mampu untuk berbicara maka sungguh Zalfa ingin engkau tahu bahwa hari itu Zalfa bahagia. Cinta ini adalah kesucianku dan hari ini engkau yang akan meminang kakakku maka betapa besar harapanku agar engkau bisa menjaga kesucian cinta Zalfa nafisha melalui mata yang ku hadiahkan untuknya.jangan  bersedih kasihku yang tak bisa kumiliki karna aku akan menjadi purnama pelita kala sujudmu,Zalfa menanti untuk menjadi bidadari syurgamu.

                                           Tertanda: Zalfa Nafisha Ramadhan
Azam menangis tersedu ,betapa  cinta Zalfa sungguh benar nyata adanya.kesalah fahaman selama ini ternyata membuatnya sadar bahwa cinta Azam ada diantara dua gadis kembar.tapi semuanya kini berakhir dalam peraduan karna penyakit radang hati yang kian tahun menggrogoti Zalfa membuatnya semakin sadar bahwa kakaknya lebih berhak atas kebahagiaan ini.
*****
         Malam ini para malaikat bersaksi atas kedua sejoli itu yang bersujud mengadu atas rasa syukur. Setelah salam, Zalfa mencium tangan Azam sembari bersyukur betapa mata pemberian adiknya menjadikan cinta yang tak penah membuatnya takut akan gelapnya hati.Karna kini sebuah kisah telah usai kala ikatan kasih menjadikan Azam sebagai imamnya.Azampun mencium keningnya seraya berdoa semoga pernikahan mereka penuh dengan kasih sayang Allah..
                                  
By:Ana Sholiha
STKIP PGRI Jombang
Pondok Pesantren Darussalam Ngesong, Sengon, Jombang.

7 SAJAK TERBARU ANAK SASTRA


Kumpulan Puisi Baru Anak Sastra






Seruni

Aku harap langit langit bongkok, berubah jingga kebiruan, tepatnya jika semesta mengayak bebatuan. Sajak ini adalah padi-padi sajian untuk ikan di pekarangan tempo hari,sejatinya sederet kuas kecil menuntaskan sisa debu di atas hujan.



 Jombang, 1 juni 2014














Lingsir

Tenaga-tenaga bapak,beserta kapak dan genggaman pasir di bendungan murni penuh jeritan, tawa tergidik aliran air mata. Bertubi-tubi jeramimengulas jembatan sisa penyebrangan liur pada pertengahan purnama. Saat itu senja tiada.


 Jombang, 2 juni 2014













Kamboja
Selepas gigimu, berulang kali Rambut menua hingga rapuh. mata merabun hingga tenggelam. Telinga menuli hingga menghilang. Kerangka terbujur hingga tiada.


 Jombang, 3 juni 2014













Guk

Neon di barat daya kota tua, memudakan pelupuk biru di rumah sebrang. Semakin jelita kedipan bayi-bayi dalam caping, mengakhiri pesta perburuan dengan sepasang swallow melepas pergi tuannya. Di taman merah tandanya kongres akan kembali.


 Jombang, 4 juni 2014















Mayang
O jiwa menghempas lelah, Rembulan serak sekejap, Menenteng embun raksa beruban.Sepertihalnya kantup bibirku tertegun menyerukan hikayat kehidupan bersama trotoar, debu-debu kota,


 Jombang, 5 juni 2014













POK
Aku sesat dalam bahagia.Mengindahkan umang-umang nakal, hinggap jemari pada pelataran meluas. Pok ame- pok ame ame…


Jombang, 6 juni 2014 










Gondol

Lubangmu Sri, terasa senyap sedikit beraroma basah. Apalagi saat tamu-tamu datang memintamu meluruskannya, lubang itu menganga. Malah semakin menganga meminta mata mengamatinya.

 Jombang,7 juni 2014