La Tahzan kasihku,..
Serupa purnama,..
akulah angin yang Paling sempurna untuk sujudmu.Dan sebagaimana pagi,tangismu akan menuju muara dhuha dalam hatiku.
*****
Terlihat
jelas sayap-sayap malaikat mengkhitbah puncak naungan tertinggi.Menyebarkan nuansa pagi dalam petuah-petuah doa yang Terucap
dalam seribu bahasa.Masjid Fathul Jannah pagi ini sesak dengan kerumunan
santri yang hendak menjejali shof jama’ah sholat dhuha.Kerling bening wajah
terbasuh air wudhu yang menjadikan wajah mereka nampak berseri kian indah
dimata para malaikat sekitarnya.Salah satu dari mereka melangkah ke depan
sebagai jendral dalam pertemuan sakral bersama sang khaliq. Bertakbir,
mengagungkan yang maha cinta.Muhammad Zafarin Azam begitu hikmat menentukan
titik kolaborasi lafal serta gerakan sholatnya.Dekapan dhuha yang begitu agung
menjadi perisai di antara sang pecinta
kekasih dalam sujud
“Assalamualaikum warohmatullahiwabarakatuh...”.Setelah menyelesaikan
sholat dhuha. Azam secara khusyuk bermunajat mengurai doa,untuk yang maha
segalanya tempat seorang hamba bersimpuh dalam segala kepiluan dan kenikmatan
hidup.Aduhai menawan semua perawakannya,bicaranya begitu bijak, pandangannya teduh,
apa
lagi sesaat kala dia tersenyum, matahari seumpama kristal dalam sajak-sajak tasbihnya.Sesosok
Azam memanglah mampu membuat langit biru meneteskan kerinduan untuk semua awan
yang berpijak.
Setelah sholat dhuha, Azam bergegas meninggalkan masjid sambil
menenteng buku catatan.Buku pemberian ummi sebagai hadiah saat Azam meraih
gelar terbaik waktu kuliah di Kairo. Rencananya hari ini Azam ingin mengunjungi
danau yang tak jauh dari kawasan pondok.
Sebuah danau yang ia rindukan setelah 5 tahun kepergiannya ke Negri
Gurun sekedar mengantongi dahaga akan ilmu,tempat berlarinya Azam waktu kecil saat di kejar-kejar ummi untuk
sholat,tempat Azam membantu abah untuk menimba air dari danau bersama para
ikhwan di pondok. Dan tempat bersembunyinya Azam saat dimarahi ummi gara-gara
nggak mau ngaji.”Ah....!sungguh aku
rindu akan semua itu,....”. Gerutunya dalam hati.Pagi ini kesejukan angin
berhembus tanpa tawanan,Azam termenung
memadati semua hamparan kristal dalam beludru pepohonan.Hatinya begitu
hanyut mengenang Azam kecil,yang sedang terbahak-terbahak digelitiki ummi.
Tapi tiba-tiba disudut danau pandangannya terhalau sepasang mata
diantara bias-bias pelangi Allah.Ya suatu keindahan yang asing baginya,tak
dapat diikat dan diukur cara pendeskripsiannya.Inilah prosa para pujangga penawar
cinta. Bahkan keanggunan perempuan kairopun dalam
sekejap lenyap karenanya.
“Dan demi
dhuha,..ku temukan seteguk
Angin yang memabukkanku tuk melihatnya
Sebagai mahkota hati yang sedang berbunga
Aku mengagumi keindahannya karenamu
Subhanallah...”.
Azam terbius akan sosok itu.Gadis
bermata biru,dengan gaun putih berpadu warna biru langit, membuatnya begitu
anggun meski dari kejauhan, seandainya bukan batas syariat dan bukan batas
seorang muslim terhadap muslimah yang bukan mahram, Azam sudah sedari tadi
meluncur menghamburkan rasa penasarannya pada gadis itu.Mengajaknya ta’aruf dan
berkeliling danau barang sebentar.Tapi tetap saja Azam harus mengerti jika dia
putra dari beliau, Abah Mahfud pengasuh di pesantren ini.Dia harus tau aturan
dan tata krama.
“Hayooo........!!!!Kak
Azam nglamunin apa hayo.,...cie..cie..ketahuan…”.Tiba-tiba si bungsu Annida
Fauziyah sambil cekikikan hampir memutilasi jantung Azam dalam satu waktu sekaligus. “ Nida.......!!! mesti kamu tu ya bikin kakak hampir jantungan
gara-gara kamu kagetin, awas pokoknya kakak
gelitikin sini...!! biar tahu rasa....!!!”. Sambil menggerutu Azam mengejar adiknya yang keburu
lari sebelum Azam sempat menangkapnya.Nida yang begitu lincah berlari, cukuplah
membuat Azam terengah-engah kehabisan tenaga. Keduanya asyik dengan dunia
mereka.
“Naah.....kena...!!!!”. Azam dengan bangga
menangkap adiknya setelah sekian lama adikya membuatnya harus berfikir keras
memutar otak mencari celah untuk menangkapnya. “Aaaah,....Kakak..jangan,katanya
Kak Azamkan orang baik,...jangan hukum Nida ya Kak..,kan Nida cuman bercanda,
Nida janji dech gak ngerjain kak Azam lagi”. Dengan wajah memelas gadis berumur
10th
itu mencoba merayu Azam. “Zeee...ya gak bisa gitu dong,pokoknya adek harus
dapat imbalannya soalnya udah ngerjain kakak.Sekali lagi Azam menambah
gelitikan mautnya pada badan Adiknya yang sedang ada dalam pangkuannya.Dan
untuk kesekian kalinya pula Nida menjerit kegelian karna ulah kakaknya itu.
“Kak Azam udah dong kak,.. Nidakan udah
minta maaf. Sambil cekikikan Azam semakin menggoda adik imutnya itu. “Ok dech
Kakak maafin, tapi ada syaratnya,Gimana..???”. Sambil mencet Hidung mungil si
Nida. “Auuwh.....kakak sakit...!!!.kok maafinnya gak ikhlas gitu sih.. pake
syarat segala..” “lha mau gak kok..??? atau mau ini lagi...??”. Azam menambah
peluru gelitikan maut pada badan Nida sambil tertawa senang. “Aaaa...Ummi..kak
Azam jahat...!!!Iya dech iya...Nida nyerah tapi kakak berhenti gelitikin
Nida..Emang apa syaratnya???”.
*****
Harumya bak semerbak
kasturi,wajahnya seanggun pelangi,kedua matanya indah melebihi keindahan cinta
di negri ini.Dengan bisikan takbir dia menatap ke depan,menerjang imajinasi.Tangannya
belepotan dengan tinta kesayangannya. Menggambarkan tuangan kasih yang berpadu
pada lukisan didepannya.
“Kakak suka
melukis.??”.Tiba-tiba suara manja menggemaskan
itu membuyarkan imajinasinya.dia menoleh pada gadis mungil itu. Mengangguk
seraya tersenyum. “Wah...!!lukisan Kakak indaaaahhh sekali, Kakak suka melukis
disini za...???”. Dan sekali lagi perempuan itu tersenyum dan mengangguk
pertanda dia membenarkan apa yang diucapkan Nida barusan.Terlihat lesung pipi
yang menghias senyuman perempuan itu begitu manis dan elegan.
“Dulu Nida juga
sering kesini sama Kak Azam,karena danau ini adalah tempat favoritnya Nida sama Kak Azam.Tapi setelah Kak Azam ke Kairo Nida gak ada yang nemenin maen lagi
kesini.Tapi hari ini Nida gak akan kesepian lagi,
Kakak tahu kenapa???”. Perempuan itu menggeleng. “Karna
Kak Azam udah janji sama Nida kalau kakak gak akan ninggalin Nida lagi”.Sahut
Nida dengan kepolosannya. Perempuan itu menarik Nida dalam pelukannya, bibirnya
tersenyum tulus, penuh kelembutan.Kedua tangannya mencubit pipi Nida sambil tersenyum.Semuanya
berjalan begitu indah tanpa di sadari ada sepasang mata ikut menikmati
keindahannya dari ujung danau.
“Oh iza nama kakak siapa…???kok sedari tadi
kakak nggak jawab Nida siih…?? Atau, nida salah ngomong za..Kak”.Perempuan itu
mengelus kerudung putih Nida beriringan dengan senyuman yang selalu terpancar
melewati ruas bibir yang menggemulai merah segar itu. lalu memberikan sebuah
buku novel kecil padanya. “Ini untuk Nida,…???”. Nida agak keheranan menerima buku itu.Setelah selesai memberesi
semua alat-alatnya,Perempuan itu lalu melangkah tersenyum disertai anggukan
kecil pergi meninggalkan Nida dan novel darinya. “Kakak…,tunggu..!!”.
Nida sedikit berlari mengejar perempuan itu. “Kakak terima kasih za…Nida pasti
akan sayang sekali sama buku ini.Meskipun Nida belum tau nama kakak, Nida
yakin, nama Kakak pastilah sangat indah, ya seindah lukisan itu. Kak Azam juga
ngucapin terima kasih ke Kakak,coba dech kakak lihat Itu…!”. Telunjuk sibungsu Nida
mencoba mengarahkannya ke ujung danau.Terlihat Azam melambaikan tangannya,
pancaran senyuman yang begitu menawan pada kedua bibirnya meranumkan setiap
taman hati seorang hawa, dan kedua tangannya ia rapatkan didepan dadanya layaknya seorang muslim yang sedang
berta’arufan dengan lawan jenisnya. Perempuan itu tersenyum, sejurus kemudian dia
melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
*****
Malam ini
Pondok pesantren Darussalam penuh dengan hingar bingar lantunan sholawat,Suasana yang memukau semua
mata menjadi santapan hangat untuk para santri.Tepatnya di Aula Pondok,para mudabbir
mengadakan acara lomba Diba' Akbar yang
di sertai oleh santri putra dan santri putri dalam rangka memperingati hari
kelahiran nabi Muhammad SAW.Dan Azam dipercayai Abah untuk menjadi penanggung
jawab acara ini.Semuanya berjalan dengan tertib satu persatu para peserta maju
menampilkan karya terbaik mereka.Setiap kelompok menampilkan jagoan mereka
masing-masing.Bersaing secara sehat dan menjunjung totalitas kelompok masing-masing.Karena
Pondok putra dan Pondok putri dibawah satu naungan yayasan, maka pastinya
perlomba’an kali ini sangatlah ketat tingkat persaingannya.
Abah Mahfud
dan ummi Aisyah memasuki ruangan dengan pakaian yang serba putih dan tidak lupa
surban hijau terpasang di atas leher abah menambah karisma dan sifat bijak
abah.Dan Umi Aisyah berjalan disamping Abah, Aura kecantikan ummi Aisyah tak
luput dari pandangan.Semuanya terpana
oleh beliau sang teladan. Sedangkan Azam layaknya pangeran dari singgasana raja
berjalan dibelakang Abah dan Ummi bersama Nida menuju tempat duduk yang
terletak paling depan . Baju koko
bermotif, membaiat semua mata untuk tidak melepaskan pandangannya.Semuanya
terlihat selaras.
Acara
pembukaan sudah terlaksana kini acara selanjutnya yaitu pembacaan Ayat suci
Al-qur’an yang kabarnya akan dibawakan oleh seorang santriwati. Terlihat
sesosok perempuan maju kedepan diiringi dua orang teman, yang satu memapah dan
yang satu menjadi sari tilawah. Azam agak tercengang melihat pemandangan itu
hatinya berdetak kencang penuh gemuruh kerinduan.Dalam dadanya terpapar sejuta
pertanyaan. “Gadis itu kan…???”. Dengan cepat Azam membuka memorinya beberapa
bulan lalu.Waktu itu kenangan di Danau masih terlihat jelas dalam benaknya.Ya
gadis itu adalah “Zalfa nafisha ramadhani” sesuai dengan nama yang tertulis
didalam buku novel kecil yang tempo dulu diberikan pada Nida. “Gak salah lagi….
dia pasti Zalfa penulis serta pelukis itu…!!!”. Azam sedikit berdiskusi dengan
pikirannya. Hati Azam mendayu ndayu begitu riang,dunia ini seakan langsung
berwarna dengan gemilau bintang,apa yang selama ini mengganggu tidurnya,kini
sudah ada penawarnya. Ya,penawar hati Azam yang terlunta –lunta dirundung
kerinduan. Pada perempuan yang dulu belum sempat menyebutkan namanya pada
adiknya Nida itu. Beruntung sekali dulu Nida mau membantunya, setidaknya Azam
bisa mengetahui namanya lewat buku pemberian perempuan cantik itu yang ternyata
bernama “Zalfa”. Azam tidak akan pernah menyangka bisa melihatnya lagi disini.
Apa lagi ketika mendengar suaranya waktu melantunkan Ayat-ayat suci,subhanallah,..tak
ada yang bisa melukiskannya melalui kata,semua tamu dan peserta begitu
tercengang mendengar suaranya yang sangat merdu itu.
Acara
berakhir tepat jam sepuluh malam,semuanya berjalan sempurna.Setelah acara
penutupan, semua peserta kembali ke kamarnya masing-masing.Paling tinggal para
mudabbir saja yang masih beres-beres. Sedang Abah Mahfud, Ummi Aisyah,Azam dan
Nida baru saja ke ndalem setelah mengikuti kegiatan para santri. Yang Ummi,
langsung mengajak Nida ke Kamar,sedang Abah masih berbincang-bincang dengan
Azam seputar acara yang baru saja selesai. Abah Mahfud sungguh tidak bisa
menyembunyikan rasa bangganya pada Azam yang sudah berhasil membimbing para
mudabbir untuk menggelar acara yang meriah seperti yang barusan digelar.Apa
lagi Azam baru saja menyandang gelar license di Kairo.Sungguh bukan main rasa
syukur yang tertuang untuk Azam.Tak jarang Abah sesekali terbahak-bahak
mendengar cerita petualangan Azam di Kairo. “Azam..abah bangga sama kamu, suatu
saat abah pastilah akan sangat bahagia melihatmu memimpin pesantren ini,,”. “
Dan semua yang Azam rasakan ini juga tak luput dari restu Abah..”. Azam
menjawab perkataan Abah. “Zam…perlu kamu tahu juga,umurmu hampir 27 tahun. Dan
sudah waktunya kamu menikah,Ummikmu
sudah mewanti-wanti cucu darimu”. Lagian kamu sudah sarjana,apa lagi
yang kamu tunggu..???”. Azam terdiam sejenak mencoba merenungi apa yang Abah
paparkan padanya. “Maafkan Azam bah, Azam belum menemukan pendamping yang pas
untuk Azam jadikan makmum kelak,selain itu
Azam juga merasa belum bisa menjadi seorang imam yang baik serta bijak,yang
kelak akan menjadi panutan untuk keluarga..”. Mendengar hal itu Abah tersenyum
sangat lembut sembari berkata. “Oalah to Zam…trus buat apa kamu kuliah
jauh-jauh sampai Kairo kalo jiwamui sebesar tempe. Masalah pendamping Ummi dan
Abah sudah siapkan calon untukmu dia cantik dan seorang hafidhah, dan Abah
harap kamu bisa membimbingnya dalam menjaga hafalannya.Sayangnya dia mengalami
kecacatan fisik, ada gangguan pada kornea matanya yang menyebabkan dia buta”.
Kali ini Azam benar-benar risau, bayangan Zalfa seolah semakin menelusuri
pelupuk matanya.Apakah mungkin pilihan Abah benar-benar bisa membawa Azam pada
samudra kerinduan yang tak berkesudahan seperti rindunya pada sang bunga hati
“Zalfa”
Hari ini
genap 6 bulan setelah Abah mempertemukan Azam padanya. Seorang Wanita sholiha
yang ternyata adalah seorang gadis yang membuatnya mabuk kerinduan.Awalnya Azam
juga sempat kaget mendapati semua itu tapi mungkin memang sudah garis takdir untuknya
Dan minggu depan Adalah momen sakral yang ia nanti-nantikan.Tak terbayangkan
betapa anggunnya kelak Zalfa saat dipinangnya.Tiba-tiba hp yang tergeletak
diatas meja membangunkan Azam dari lamunannya
“sebelum ku
lukis jejakmu
Maka izinkan
puisiku bersajak atas gejolak hati,,”
Azam
membalas :
Dan demi
fajar maka bentangan puisimu adalah bentangan samudra harapan
Sms itu Sudah tidak lagi dibalas. Entahlah, Azam sendiri
sering bingung siapa dan dimanakah pengirim pesan –pesan itu. Bahasanya
menandakan kepedihan setiap kata menyimpan seribu pertanyaan. Siapakah pengirim
pesan misterius itu.????
*****
Zalfa
Nafisha Ramadhani menangis tersedu, batinnya remuk redam membubuhi gejolak hati
yang kian menggunung. Haruskah dia diam sedang seorang yang teramat ia cintai
besok akan resmi menjadi suami kakaknya sendiri???.Azam, sadarkah dia jika yang
dijodohkan Abahnya adalah zalfa fariha bukan Zalfa Nafisha???. Kenangan itu
benar sempurna merobek hatinya.Seandanya Allah izinkan dia berbicara, maka
pastilah semuanya tidak akan seperti ini. Dan pasti sekarang ini dia sedang
menunggu momen bahagianya.Tapi Allah tidak izinkan dia berbicara dia bisu,kenapa
harus dia tuhan,???.Tapi apakah mungkin itu agar dia mengerti bahwa akar
cintanya bisa dia hadiakan untuk menjadi pelengkap kak Zalfa fariha sebagai
purnama untuk sang Azam…
Hari ini
bukan mendung yang menjadikannya kelabu. Alunan musik kebahagiaan itu dalam
sekejap terhenti. Mimpi yang semula terukir rapi, kini pupuslah sudah. Bendera
kedukaan ikut terbentang, bersaksi atas kepergian” Zalfa Nafisha Ramadhani. Untuk menghadap kekasih yang tiada
yang tertandingi batasnya.Dan sungguh ini adalah pesan terakhir Zalfa untuknya
titian hati seorang Azam yang tak pernah lupus dari lukisan sang perisai kerinduan.
Azam tetaplah yang terindah diantara puisi-puisi yang terkirim tanpa nama.Azam
tetaplah jiwa diantara dzikir yang teruntai dalam setiap sholatnya.Biarlah deru
malaikat yang menyampaikan bahwa dia bahagia melihat semuanya.
Untuk yang
terkasih
Muhammad
Zafarin Azam
Sesungguhnya
Zalfa sangatlah beruntung pagi itu ada seorang pemuda yang mampu mengaduk-aduk
kerinduanku yang tiada batas dan seandainya Zalfa mampu untuk berbicara maka
sungguh Zalfa ingin engkau tahu bahwa hari itu Zalfa bahagia. Cinta ini adalah
kesucianku dan hari ini engkau yang akan meminang kakakku maka betapa besar
harapanku agar engkau bisa menjaga kesucian cinta Zalfa nafisha melalui mata
yang ku hadiahkan untuknya.jangan bersedih kasihku yang tak bisa kumiliki karna
aku akan menjadi purnama pelita kala sujudmu,Zalfa menanti untuk menjadi
bidadari syurgamu.
Tertanda: Zalfa Nafisha Ramadhan
Azam menangis tersedu ,betapa cinta Zalfa sungguh benar nyata
adanya.kesalah fahaman selama ini ternyata membuatnya sadar bahwa cinta Azam
ada diantara dua gadis kembar.tapi semuanya kini berakhir dalam peraduan karna
penyakit radang hati yang kian tahun menggrogoti Zalfa membuatnya semakin sadar
bahwa kakaknya lebih berhak atas kebahagiaan ini.
*****
Malam ini para malaikat bersaksi atas kedua sejoli itu yang bersujud
mengadu atas rasa syukur. Setelah salam, Zalfa mencium tangan Azam sembari
bersyukur betapa mata pemberian adiknya menjadikan cinta yang tak penah
membuatnya takut akan gelapnya hati.Karna kini sebuah kisah telah usai kala
ikatan kasih menjadikan Azam sebagai imamnya.Azampun mencium keningnya seraya
berdoa semoga pernikahan mereka penuh dengan kasih sayang Allah..
By:Ana Sholiha
STKIP PGRI Jombang
Pondok Pesantren Darussalam Ngesong,
Sengon, Jombang.