Misteri makam keramat
Mbah Jangat
Ngesong Sengon Jombang.
Ngesong, sengon
Jombang merupakan desa yang terletak di
daerah pinggiran Jombang , dimana konon dulu di desa ini merupakan daerah yang
dipenuhi dengan pohon sengon, hingga pada masanya tokoh yang membabat
pohon-pohon itu dan membukanya menjadi sebuah perkampungan. Pada akhirnya
dinamakanlah desa inisebagai desa Sengon.
Kondisi desa
sengon, sebagaimana perkampungan pada umumnya. Penduduk yang mayoritasnya adalah
beragama islam, seringkali melakukan kegiatan kegiatan dakwah pada hari besar
islam. Ketika mengamati lebih dalam desa ini, ada yang menarik dan menuntun
saya untuk lebih mengetahui lebih dalam.
Ada sebuah makam tua, yang letaknya
ada di pinggiran desa, hanya satu makam,
di sertai pohon beringin besar, makam itu berada di balik rerimbunan kebun
jati, tempatnya sedikit lembab, dan berbeda dari tempat-tempat yang lainnya.
penduduk biasanya menyebut tempat itu “ Mbah Jangat” banyak cerita dalam
berbagai versi yang menyebar pada masyarakat .
Ada yang menyebut” bahwa mbah jangat
merupakan tokoh masyarakat yang dulunya
membuka desa sengon ini. Ada yang mengatakan pula bahwa mbah jangat merupakan seseorang yang
sangat disegani saat itu. Namun selama proses pencarian data mengenai mbah
jangat ini ada tanggapan yang berbeda dari masyarakat setempat. Khususnya
penduduk ngesong, ketika saya bertanya mengenai informasi sejarah makam tua
kebanyakan orang yang saya tanya, merespon dengan cara yang sama. Ekspresi kaget,
takut, khawatir, jelas sekali Nampak di setiap wajah mereka, tiap kali saya
bertanya mengenai makam mbah jangat. Semuanya seperti sengaja bungkam.
Hanya menjawab dengan gugup,
berusaha memalingkan wajah seraya berkata” Wah ndak tahu mbak, beneran ndak
tahu” dari sini saya semakin
bertanya-tanya apa dan siapa sesungguhnya gerangan, apakah pernah terjadi
sesuatu pada desa ini dengan makam tua itu?. Entahlah, akhirnya saya disuruh
kepada seseorang yang usianya sudah tua.
Pastinya tahu banyak hal, dan sekali lagi seseorang itu tidak bersedia.
Rasa penasaran yang semakin membubuh
dalam diri saya membuat saya sedikit demi sedikit memantik pertanyaan pada
salah satu bapak mengenai makam mbah jangat. Namun sekali lagi beliau tidak
bersedia. Dengan alasan tidak tahu, meskipun asli penduduk desa ini., namun ada
beberapa kata yang tiba-tiba meluncur dari bapak itu, “ Dulu kalau orang mau
nikah, biasanya memberikan beberapa seserahan ke tempat itu” sontak saya kaget, mendengarnya seraya
menanggapi bapak itu “ hoo berarti memberikan sesembahan begitu maksud bapak?”
“ ya kepercayaan orang beda-beda mbak”. Ketika saya gali lagi lebih dalam bapak
itu mengalihkan pembicraan dan menyuruh saya pergi ke “ Mbah Mad” salah satu
sesepuh desa ini, menurutnya mbah Mad
ini mungkin tahu ihwal sejarah makam tua itu.
Malam meremang dalam gelap, terlihat
rumah sederhana di samping mushola masih menyala berpendar-pendar cahaya
menyebar ke seluruh teras, Nampak ada seorang kakek sudah lanjut usia duduk
termenung di beranda rumah. Seseorang dengan wajah yang teduh seraya tersenyum
sedikit terheran akan kehadiran saya dan adik saya yang mengantarkan saya
menunjukkan rumah Mbah Mad. “ sopo?” “ mbah nembe nopo?” memulai dengan
obrolan ringan percakapan melaju
sebagaimana mestinya. Dengan segenap kemampuan saya mencoba membuka
membuka pertanyaan saya mengenai makam tua itu . “ Mbah, wonten makam tua
teng sebelah kebun jati niku terose makame mbah Jangat njeh mbah?” mendengar pertanyaan saya, wajah yang
semulanya sangat hangat sontak berubah kaget tidak jauh dari ekspresi
orang-orang sebelumnya yang saya jumpai. “ Heh !! mbah jangat!” melihat responnya yang demikian membuat saya
semakin bertanyap-tanya.
Ketika saya coba Tanya, beliau
merespon dengan nada dingin” ndak…ndak..ndak.. ndak bisa saya ndak bisa saya”
ada wajah hawatir, takut, seperi banyak cerita yang bertumpah ruah di garis
matanya. “ Makam itu keramat, ndak
bisa saya,ndak bisa, banyak yang datang ke makam itu, banyak, dari mojo agung,
dll. Tapi bukan dari penduduk sini. Haduh
beneran ndak bisa saya itu semua kan urusan mereka, penduduk sini ndak mau ikut
campur.”
Mendengar hal yang demikian membuat
perasaan saya semakin bercampur aduk tidak karuan, penasaran juga rasa takut,
melihat ekspresi Mbah Mad. Dan meluruskan cerita-cerita yang beredar di
masyarakat yang mendirikan desa sengon
ini apakah benar demikian memang mbah jangat yang mendirikan?
Demikian saya tanyakan namun mbah mad menggelengkan
kepala seraya berkata “Bukan, yang mendirikan desa ini makamnya ada di dalam
pondok Darussalam, dimana letaknya di
tengah tengah ds sengon. Sedikit kaget mendengarnya. Pertanyaan saya lalu
siapakah mbah jangat ini? Kenapa makamnya di sendirikan,? Dan kenapa mbah Mad
menyebutnya keramat? . Perasaan yang semakin kalut membuat saya terdiam sesaat.
Di sebelah makam itu dulu ada sebuah beringin yang sangat besar, sangaaat
besar, ada seorang yang nakal dari
penduduk sini datang ke tempat itu
memanjat pohon itu, lalu membakarnya, tiba-tiba ada dahan beringin yang begitu
besar bisa roboh padahal tidak ditebang.
Setelah itu sungai yang membelah desa
ini ada banyak sekali ularnya. “ . Tiba-tiba cerita itu terhenti dan sekali lagi Mbah Mad berkata “ Ndak
bisa mbak ndak bisa,.. hawane panas ndak bisa” ada raut ketakutan yang
terlihat dari Mbah Mad. Darinya saya sudah tidak berani menggali lebih dalam.
Meskipun rasa penasaran itu semakin bertubi-tubi tapi saya pendam dalam-dalam.
Saya pamit pulang. Mati-matian berpikir sepanjang jalan, mencoba menerjemahkan
semua yang saya terima hari ini.
Keramat, banyak yang bungkam dan
banyak hal masih mengganjal. Setiap anak
kecil yang hidup di desa ini selalu
takut ketika mendengar nama makam tua ini. Cerita yang mengalir pada masyarakat
juga banyak dalam berbagai macam versi. Jika ada beberapa sumber dari kaum
muda, kebanyakan mengetahui tempat ini sebagai tempat “ ngalap berkah”
atau mencari keberuntungan, banyak yang datang yang justru dari luar kota.
Namun akan kebenarannya hingga saat ini masih menjadi bahan pertanyaan bagi
kebanyakan orang. Makam penuh misteri dan teka-teki.
Tamat
by: Ana Niastutri
Nb: Sumber cerita dip[eroleh dari mbah Mad salah satu sesepuh desa Senghon